RSS
email

News

Self-Motivation, Faktor Penting dalam Hidup


(Vibiznews – Sales&Marketing) – Suatu tujuan tidak akan mampu dicapai tanpa kehadiran motivasi. Sementara, motivasi sendiri berasal dari berbagai sumber, baik eksternal maupun internal. Dari kedua jenis motivasi tersebut, motivasi internal atau self-motivation adalah yang pengaruhnya paling kuat. Sementara motivasi eksternal mudah pudar, namun jika kita punya self-motivation sendiri, maka hal tersebut akan tertanam dengan kuat dalam diri.

Lalu, bagaimana supaya Anda mempunyai self-motivation yang cukup kuat? Berikut ini adalah serangkaian tips yang bisa Anda lakukan:

Goal and Plan
Setiap orang masing-masing tentunya memiliki banyak tujuan yang ingin dicapai. Sementara itu, tujuan atau aspek utama yang memotivasi tiap individu juga berbeda. Sehingga, Anda perlu mengenali aspek mana yang paling mendorong motivasi Anda. Aspek tersebut macam-macam, mulai dari keluarga, uang, gaya hidup, karir, agama, dan lainnya. Mana yang menurut Anda paling penting? Mana yang Anda kejar dan bisa membuat Anda untuk terus termotivasi? Itulah sumber self-motivation Anda.

Setelah menetapkan tujuan dan sumber self-motivation Anda, tanyakan kepada diri Anda, apakah karir Anda saat ini sudah mendukung tujuan yang ingin Anda capai? Baik ya ataupun tidak jawabannya, Anda tetap harus menentukan langkah-langkah perencanaan untuk mencapai tujuan yang mampu menjadi self-motivation bagi diri Anda. Tetapkan rencana jangka pendek maupun panjang yang realistis di agenda. Setiap hari, ingatkan diri Anda terhadap tujuan dan kaji kembali kemajuan apa yang sudah Anda peroleh dalam mencapai tujuan. Terus lakukan evaluasi hingga tujuan Anda tercapai.

Reward
Tetapkan reward jika tujuan berhasil dicapai. Setiap kali tujuan Anda tercapai tepat waktu, berikan reward kepada diri Anda sendiri. Diri Anda sendiri perlu memperoleh penghargaan atas kerja keras yang sudah Anda lakukan. Reward juga bisa menjadi hal yang memotivasi Anda untuk mencapai tujuan dengan disiplin. Sehingga, selanjutnya Anda akan terus semangat untuk mengejar tujuan.
Misalnya, setelah menyelesaikan proyek yang berat, Anda bisa memberikan reward kepada diri Anda dengan mengambil cuti untuk liburan.

Stay Positive
Dalam mencapai tujuan, tentunya tiap orang menemui berbagai rintangan. Yang membedakan satu individu dari individu lainnya adalah respon mereka terhadap rintangan. Ada yang mundur dan menyerah, ada yang ragu, dan ada pula yang tetap maju. Tiap rintangan pasti mempunyai jalan keluar, oleh karena ingatkan diri Anda untuk terus bersikap positif. Setiap kali Anda menemui rintangan, ingatkan diri Anda kepada self-motivation dan tujuan yang Anda capai, maka pasti Anda akan berhasil menyelesaikan rintangan yang Anda hadapi.
Sulit bagi Anda, misalnya untuk menjadi seorang salesperson handal jika tidak bisa bersikap positif. Seorang salesperson tentunya akan sering memperoleh penolakan dari prospek, sehingga sikap positif menjadi sangat penting. Sikap positif akan menjadikan Anda seorang salesperson yang tangguh dan pantang menyerah.

Ref : Human Resources


Tips Mengatasi Dampak Negatif Downsizing

Oleh: Rinella Putri

(Vibiznews – HR) – Layoff atau PHK sebagai akibat dari downsizing tidak hanya memberikan dampak negative kepada karyawan yang terkena PHK, melainkan juga mereka yang bertahan di perusahaan. Mengapa? Karena downsizing bukanlah menyelesaikan masalah, justru kini tanggung jawab untuk menyelesaikan masalah berada pada mereka yang bertahan di perusahaan.

Saat ini, di dunia, terutama AS, terjadi gelombang PHK besar-besaran. Bahkan hingga September 2008, angka PHK mnecapai level tertinggi sejak peristiwa 11 September 2001 lalu. Tercatat ada sekitar 2,269 PHK pada bulan September dibandingkan dengan 2,407 pada bulan September 2001.

Sirota Survey Intelligence, sebuah badan riset, dengan meneliti perilaku sekitar 500 ribu karyawan pada tahun 2000 (sebelum PHK terjadi), dan setelah 2002 (setelah PHK terjadi), maka mereka dapat menggambarkan dampak dari PHK terhadap karyawan yang bertahan serta memberikan lima guideline penting bagi employer dalam mengelola karyawan.

Menurut hasil penelitian dari Sirota, terdapat beberapa dampak negatif pada perilaku, kepercayaan maupun persepsi karyawan setelah peristiwa 11 September 2001, diantaranya:
◦Turunnya Job security: Jika sebelumnya pada tahun 2000 sekitar 69% karyawan merasa pekerjaannya aman, namun jumlah ini merosot menjadi hanya 61% pada tahun 2002.
◦ Kurang Merasa dihargai: Dulu tahun 2000, sekitar 67% karyawan yang disurvei mengaku bahwa mereka merasa dihargai dan punya penting dalam organisasi. Namun angka ini anjlok menjadi 44% pada tahun 2002.
◦ Teamwork Menurun: Jika pada survey tahun 2000 sekitar 81% karyawan menyukai kerjasama tim pada unit kerja mereka, maka angka ini turun menjadi 71% pada tahun 2002.
◦ Beban Kerja Meningkat: 28% karyawan yang disurvei pada tahun 2000 merasa bahwa terlalu banyak beban kerja yang ditimpakan kepada merka. Namun angka ini semakin meningkat menjadi 34% pada tahun 2002. Artinya, beban kerja karyawan yang mengalami PHK kini ditimpakan kepada karyawan lama.
◦ Kesempatan berkembang: Awalnya pada tahun 2000 sebanyan 48% karyawan yang disurvei merasa yakin terhadap kesempatan mereka untuk berkembang, namun pada tahun 2002 menurun jadi tinggal 39%.
◦ Kurang inovatif: 62% karyawan yang disurvei pada tahun 2000 percaya bahwa perusahaannya inovatif, namun angka ini turun menjadi 52% pada tahun 2002.

Demikian adalah enam dampak dari downsizing yang ditemukan oleh penelitian dari Sirota Survei Intelligence. Sebenarnya masih terdapat beberapa dampak negatif lain, misalnya kebingungan mengenai prioritas pekerjaan, kurangnya komitmen kerja, persaingan internal yang kurang sehat, munculnya konflik, dan lainnya.
Demi mengatasi masalah-masalah tersebut serta mengurangi dampak negatifnya, maka perusahaan harus mengambil beberapa langkah konkret terhadap karyawan yang bertahan di perusahaan, diantaranya adalah:

1. Komunikasi
Komunikasi adalah hal yang sangat penting dilakukan pada masa downsizing. Karyawan tentunya perlu untuk mengetahui apa yang terjadi, dan apa yang akan terjadi di masa depan. Oleh karena itu, untuk menolong karyawan dalam memahami situasi, maka lakukankah komunikasi dengan mereka. Seandainya perusahaan akan melaksanakan PHK di masa depan, sampaikan kepada mereka, supaya mereka dapat mengerti dan siap menerimanya.

2. Emosi
Biarkan karyawan mengeluarkan emosinya. Dalam beberapa saat setelah terjadinya PHK, tentunya ada emosi-emosi negatif yang menyelimuti karyawan. Emosi ini wajar, dan biarkan berlangsung secara alami. Selama tidak berlebihan, maka tidak menjadi masalah. Misalnya, wajar jika karyawan menjadi lebih cepat frustrasi atau stress.

3. Melibatkan Karyawan
Masalah bagi perusahaan sama dengan masalah bagi karyawan. Oleh karena itu, Anda bisa melibatkan karyawan dalam memperoleh jalan keluar yang tepat, sekaligus meningkatkan kerjasama tim dan efisiensi.

4. Pengembangan Karir
Beban kerja yang meningkat merupakan peluang bagi karyawan untuk meningkatkan skill mereka. Namun, disisi lain perusahaan juga harus menaruh perhatian terhadap pengembangan karir karyawan dalam jangka panjang serta menunjukkan keyakinan pada mereka.

5. Evaluasi
Evaluasi secara periodic mengenai perilaku karyawan, dan bagaimana kebijakan-kebijakan perusahaan berpengaruh terhadap operasional perusahaan sehari-hari.

Ref : Human Resources


Fenomena Kegagalan Karyawan Baru

Oleh: Rinella Putri

(Vibiznews – HR) – Sering kali kita mendapati karyawan yang baru masuk ke dalam suatu perusahaan hanya bertahan dalam jangka waktu yang pendek saja. Jika hal ini terjadi terus menerus tentunya kurang bagus, karena biaya dalam merekrut dan melatih karyawan baru tidaklah murah.

Lalu apa alasan kegagalan karyawan baru? Berikut ini adalah beberapa alasan utama yang saya temui, berikut solusi yang memungkinkan.

No Match
Alasan yang utama adalah kesalahan rekrutmen. Ini adalah kesalahan dari pihak perusahaan, dalam hal ini divisi SDM maupun manajer yang melakukan seleksi. Setelah direkrut, ternyata karyawan ini tidak memiliki skill maupun kualifikasi seperti yang dibutuhkan oleh pekerjaan tersebut.

Kesalahan ini bisa muncul mungkin karena CV yang menggiurkan dari pelamar, serta ditambah performa pelamar yang meyakinkan pada saat wawancara. Padahal dari wawancara saja belum bisa menentukan skill seseorang secara akurat. Solusi dari masalah ini adalah, pada saat wawancara Anda harus menanyakan hal-hal yang berkaitan langsung dengan masalah pekerjaan ataupun menguji skill-nya langsung di tempat.


Lack of Mentoring

Alasan lainnya yang mengakibatkan karyawan gagal adalah ia kurang memperoleh bimbingan yang tepat mengenai pekerjaannya, sehingga kurang bisa masuk dan beradaptasi dengan pekerjaan yang baru.

Kesalahan ini muncul karena pemimpin kurang memberikan arahan yang jelas, dan membiarkan karyawan baru untuk tidak terdampingi dalam menghadapi pekerjaan barunya. Solusi yang tepat adalah menyediakan asistensi bagi karyawan baru, sehingga ia bisa beradaptasi dengan lebih baik dengan pekerjaannya. Sementara itu, karyawan baru sendiri juga harus lihai dalam berusaha beradaptasi dan belajar mengenai pekerjaan barunya.

Lack of Recognition
Kurangnya penghargaan yang diperoleh karyawan terhadap usahanya bisa jadi alasan utama yang mengakibatkan karyawan hengkang. Penghargaan disini bisa berarti bahwa kontribusi kerjanya kurang diperhitungkan, sistem penilaian kinerja yang kurang fair, hingga kurangnya kesempatan karir.

Solusi yang tepat adalah dengan menyediakan sistem reward dan recognition yang fair, serta menciptakan jenjang karir yang menarik bagi karyawan.

Ref : Human Resources

Bookmark and Share

0 comments: